3 Sumber Aturan Islam, Cuma 3 Tapi Telah Meliputi Seluruh Kebutuhan Semua Mahluk

sumber aturan islam via huseinmuhammad.net

Sebagai umat Islam, sudah sepantasnya kita mengetahui sumber aturan Islam yang sudah ditetapkan. Apa saja 3 sumber aturan Islam yang dimaksud? Yuk simak penjelasannya.

Kata-kata sumber dalam hukum Islam merupakan terjemah dari kata mashadir yang berarti wadah ditemukannya dan ditimbanya norma hukum.

Sumber aturan islam adalah segala sesuatu yang dijadikan dasar, acuan, atau pedoman syariat islam.

Perkembangan dan diakuinya hukum Islam sebagai aturan positif aturan Islam lahir di Indonesia yaitu semenjak datangnya Islam ke Indonesia jauh sebelum pemerintah Hindia Belanda tiba ke Indonesia.


3 Sumber Sumber Hukum Islam Yang Wajib Kita Pahami Dan Ketahui


ilustrasi sumber aturan islam via pondokislami.com

Sahabat Alquran yang dimuliakan Allah, pada dasarnya, ada dua sumber aturan Islam utama yang dijadikan landasan bagi umat Islam dalam berprilaku dan menjalani kehidupannya di dunia ini. Kedua sumber aturan Islam yang utama tersebut yaitu Al-Quran dan Sunnah/Hadist Nabi Muhammad SAW.

Sebagaimana Allah menjelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 2, yang artinya :

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”. (QS. Al-Baqarah:2)

dan surat Al-Hasyr : 7, yang artinya :

“ … Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah, …” (QS. Al Hasyr : 7)

Amanah yang disampaikan oleh Rasulullah SAW kepada seluruh umatnya yang artinya :

“Aku tinggalkan dua kasus untukmu sekalian, kalian tidak akan sesat selama kalian berpegangan kepada keduanya, yaitu kitab Allah dan sunah rasulnya”. (HR Imam Malik)

Selain kedua sumber aturan Islam yang utama tersebut, terdapat pula sumber aturan ketiga yaitu Ijtihad, melalui cara Ijma (permufakatan ulama) dan Qiyas (analogi/perbandingan).

Dasar penetapan Ijtihad sebagai salah satu sumber aturan islam tambahan, merujuk kepada bencana pada ketika sobat Nabi Muhammad SAW yang bernama, Muadz bin Jabal diutus untuk menuju ke negeri Yaman.

Nabi Muhammad SAW ketika akan mengutus Muadz bertanya kepadanya,

”Bagaimana Engkau akan memutuskan aturan kepada suatu persoalan yang memerlukan ketetapan aturan ?”, Muadz menjawab, “Saya akan memutuskan aturan berlandaskan pada Al Qur’an,” kemudian Rasul melanjutkan pertanyaannya, “Seandainya tidak kau temukan ketetapannya pada Al Qur’an?” Muadz menjawab, “Akan Saya menetapkan menurut Hadits”. Rasul melanjutkan lagi pertanyaannya, “Apabila tidak juga engkau temukan ketetapannya dalam Al Qur’an dan Hadits”, Muadz menjawab, ”Saya akan ber-ijtihad dengan pendapat saya sendiri,”. Mendengar klarifikasi sahabatnya itu kemudian Nabi Muhammad SAW menepuk-nepuk pundak Muadz bin Jabal, sebagai tanda persetujuan atas pendapat sahabatnya itu.

Kejadian inilah yang  dijadikan sebagai dalil untuk menjadian Ijtihad sebagai salah satu sumber aturan Islam tambahan sesudah Al Qur’an dan Hadits. Uraian berikut ini akan menjabarkan lebih detil wacana sumber-sumber aturan Islam tersebut di atas.

Jadi ada 3 sumber-sumber aturan Islam yaitu :

1. AL-QURAN

ilustrasi alquran via rifkiinfoislamic.blogspot.com

Al Qur’an merupakan sumber aturan Islam yang utama dan menjadi dasar dari keseluruhan struktur Islam. Al Qur’an mempunyai otoritas tertinggi kalau bekerjasama dengan prinsip-prinsip Islam. Artinya, semua hukum-hukum islam yang lain apabila bertentangan dengan Al Qur’an maka akan menjadi gugur dan tidak sanggup dipakai sebagai landasan hukum.

Hukum-hukum Islam yang lain yaitu hadist Rasulullah SAW dan Ijtihad yang dilakukan para sobat atau ulama  secara eksklusif dan tidak eksklusif berasal dari fatwa Al Quran.

Al Qur’an merupakan wahyu-wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril.  Setiap umat Islam mempunyai kewajiban untuk senantiasa berpegang teguh kepada ajaran-ajaran yang ada dalam Al Qur’an semoga menjadi hamba yang taat kepada Allah SWT, dengan menjalankan segala yang diperintahkan-Nya dan meninggalkan segala yang dilarang-Nya.

Kandungan Al Qur’an bahu-membahu terdiri dari banyak sekali pedoman dasar untuk kemaslahatan kehidupan umat manusia. Bukan melulu bekerjasama dengan hal-hal yang terkait dengan peribadatan kepada-Nya saja tetapi juga mengatur hal-hal lain terkait dengan tuntunan semoga insan bisa melalui serta menjalani kehidupan didunia dan darul abadi dengan sebaik-baiknya.

Secara garis besar kandungan Al Qur’an sebagai sumber aturan islam yang utama, terdiri dari 4 macam tuntunan bagi umat insan yaitu :
  1. Keimanan atau akidah, yaitu kode dan pedoman serta ketetapan wacana relasi insan dengan pencipta-Nya yaitu Allah SWT. Keimanan kepada adanya malaikat, kitab-kitab yang diturunkan kepada para Nabi dan Rasul, Rasul-rasul Allah, hari simpulan zaman / akhir, serta qadha dan qadar.
  2. Akhlak, yaitu fatwa semoga setiap umat Islam mempunyai pribadi dan kebijaksanaan pekerti serta watak kehidupan yang baik.
  3. Ritual ibadah, mulai dari shalat, shaum/puasa, zakat serta ibadah haji/umroh.
  4. Hubungan antar insan beserta amal perbuatan dalam lingkup bermasyarakat / muamalah.

2. HADIST NABI MUHAMMAD SAW

ilustrasi hadist via slideserve.com

Setelah Al Qur’an, maka sumber aturan Islam yang kedua yaitu hadist Rasulullah SAW. Banyak pengertian ataupun definisi dari para ulama wacana hadist,  akan tetapi secara umum hadist yaitu setiap perkataan, perbuatan, ataupun ketetapan yang disandarkan kepada Rasulullah SAW.

Sebagai sumber aturan Islam yang kedua, hadist Nabi mempunyai tiga fungsi yaitu :
  1. Memperkuat hukum-hukum yang telah ditetapkan dalam Al Quran
  2. Menetapkan aturan yang belum ditetapkan dalam Al Quran
  3. Memberikan rincian serta klarifikasi dari prinsip-prinsip atau tuntunan Islam yang ada dalam Al Qur’an dan masih bersifat umum.  Segala hal yang masih bersifat umum dan tidak dijelaskan secara rinci dalam Al Qur’an sanggup kita peroleh melalui sunnah/hadist Rasulullah SAW.

Oleh alasannya yaitu proses komunikasi sunnah / hadist Rasulullah pada masa itu disampaikan dari satu orang sahabat, atau keluarga Rasulullah ke satu orang lainnya dan dari verbal ke mulut, maka perlu dilakukan pemilihan dengan sangat hati-hati, semoga terhindarkan dari kepalsuan dan tetap terjaga keasliannya.

Proses pencatatan dan kompilasi banyak sekali praktek keseharian dan perkataan Rasulullah mulai dilakukan bertahun-tahun sesudah dia meninggal. Untuk itu dalam melaksanakan pencatatan sunnah dan hadist Rasulullah sebagai sumber aturan islam yang valid, dibutuhkan proses yang sangat hati-hati. Hasil kompilasi paling otentik dari sunnah dan hadist Rasulullah yang telah dilakukan oleh para perawi sunnah dan hadist, dikenal dengan nama Kutubus Sittah (6 kitab hadist rujukan umat Islam).

Keenam kitab tersebut yaitu sebagai berikut :
  • Shahih Bukhari, 194 – 256 H (Disusun Oleh Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari)
  • Shahih Muslim, 204 – 261 H (Dikarang oleh Abi al-Husein Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim)
  • Sunan Nasa’i, 209 – 279 H (Disusun Oleh Abu Abdurrahman Ahmad bin Syu’aib bin Ali)
  • Sunan Abu Dawud, 202 – 275 H (Disusun Oleh Abu Dawud Sulaiman al-‘Asyast al-Sajastani)
  • Sunan al-Tirmidzi, 215 – 306 H (Karangan Abu Isa Muhammad bin Isa al-Tirmidzi)
  • Sunan Ibnu Majah, 209 – 273 H (Disusun Oleh Abu Abdillah bin Yazid al-Qazwaini)

Kitab-kitab tersebut di atas masih tersedia hingga ketika ini dan dijadikan sebagai sumber aturan Islam kedua dan referensi utama dalam mempelajari banyak sekali hadist Rasulullah SAW. Kitab Shahih Bukhari memiliki peringkat tertinggi dalam banyak hal diikuti oleh kitab Shahih Muslim. Kitab Shahih Bukhari tidak hanya menjadi yang pertama, akan tetapi juga menjadi rujukan dalam memutuskan standard untuk kitab-kitab shahih lainnya.

Sifat-sifat hadits menurut perawi (orang yang meriwayatkannya) sanggup diklasifikasikan sebagai berikut :
  1. Hadits Shahih, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, mempunyai ingatan yang sangat baik/sempurna, tidak berillat dan tidak janggal serta mempunyai sanad yang bersambung. tepat ingatan, sanadnya bersambung, tidak ber illat/cacat, dan tidak terdapat kejanggalan pada matannya. Illat dalam ilmu hadits, yaitu suatu keanehan terselubung dan tidak kasatmata (samar-samar) yang terdapat pada suatu hadits yang sanggup menodai keshahih-an suatu hadits
  2. Hadits Hasan, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, akan tetapi mempunyai ingatan / hafalan yang tidak begitu kuat, sanadnya bersambung, tidak terdapat illat dan tidak terdapat kejanggalan pada matannya. Hadits Hasan biasanya dijadikan rujukan untuk sesuatu hal yang sifatnya tidak berat atau tidak terlalu penting
  3. Hadits Dhoif, yaitu hadits yang tidak memenuhi syarat-syarat hadist shahih ataupun hadits hasan. Satu syarat atau lebih dari kriteria hadist shahih atau hasan tidak dimiliki oleh hadist dalam kategori hadits dhoif.

Kaprikornus terdapat perbedaan yang sangat terang antara Al Qur’an dan Hadits, yaitu Al Qur’an yaitu merupakan perkataan atau firman Allah SWT, sementara hadits yaitu perkataan Nabi Muhammad SAW. Pada umumnya umat Islam akan mengikuti hadits Nabi jika tidak bertentangan dengan ajaran-ajaran yang ada pada Al Quran. Namun apabila terdapat perbedaan ataupun pertentangan antara hadits dan Al Quran, maka terang Al Alquran lah yang harus diutamakan,  sebagaimana kedudukannya sebagai sumber aturan Islam yang paling tinggi derajatnya.

3. IJTIHAD

ilustrasi ijtihad via datacomputerku.blogspot.codatacomputerku.blogspot.com

Ijtihad yaitu sumber aturan ketiga sesudah Al Alquran dan Hadits Nabi, sebagaimana telah dijelaskan di atas wacana landasan penetapan Ijtihad sebagai sumber aturan Islam ketiga.

Ijtihad sendiri mempunyai arti, berikhtiar dengan sepenuh hati dan bersungguh-sungguh berusaha menemukan pemecahan masalah, yang tidak ada atau belum ada ketetapannya pada Al Alquran maupun Hadits Nabi. Pemecahan persoalan dilakukan dengan memakai logika pikiran yang sehat serta jernih, dengan berpedoman kepada tata cara penetapan aturan dan prinsip-prinsip islam yang telah ditetapkan sebelumnya.

Untuk itu dalam melaksanakan Ijtihad seseorang haruslah mempunyai beberapa persyaratan wajib yang akan menjadi landasan ilmu dan aturan ketika melaksanakan proses ijtihad yaitu :
  • Memahami isi kandungan Al Qur’an dan Hadits dengan baik, khususnya yang bersangkutan dengan hukum-hukum islam
  • Menguasai bahasa arab dengan baik sehingga bisa menafsirkan Al Alquran dan hadits dengan benar
  • Mengetahui soal-soal ijma (kesepakatan aturan dari hasil fatwa / musyawarah para ulama wacana suatu kasus yang tidak ditemukan pada Al Alquran dan hadits)
  • Memahami dan menguasai ilmu ushul fiqih serta kaidah-kaidah fiqih yang luas

Ijtihad sebagai sumber aturan islam ketiga sanggup dilakukan dengan memakai dua cara, yaitu melalui Ijma dan Qiyas. Berikut definisi dan pengertian Ijma dan Qiyas tersebut.

IJMA

ilustrasi ijma via slideplayer.info

Ijma merupakan cara dalam melaksanakan ijtihad melalui janji aturan yang diperoleh dari fatwa atau kesepakatan/musyawarah dominan Ulama terhadap suatu kasus yang tidak ditemukan hukumnya dalam Al Qur’an maupun hadits.

Walaupun demikian rujukan dalam menyepakati aturan tersebut tetap ada dalam Al-qur’an dan hadits. Kaprikornus kedudukan Ijma (Ijtihad melalui cara Ijma) sebagai rujukan hukum, menempati urutan ketiga sesudah Alquran dan hadits.

Contoh Ijtihad dengan cara Ijma bisa kita lihat pada aturan memakai obat-obatan terlarang ibarat narkoba atau ganja dan banyak sekali minuman yang memabukkan. Allah SWT di dalam Al Qur’an tidak menjelaskan wacana adanya larangan memakai atau mengkonsumsi narkoba atau ganja dan sejenisnya.


ilustrasi ganja narkoba via akuratnews.com

Allah hanya melarang wacana meminum minuman khamar, yang terdapat dalam surat Al-Maidah ayat 90, yang artinya :

“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, yaitu termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu semoga kau menerima keberuntungan. (QS. Al-maidah :90)

Disinilah fungsi Ijma, yaitu mengambil dasar dari firman Allah SWT dalam surat Al-Maidah ayat 90, para ulama bersepakat wacana keharaman mengkonsumsi ganja atau narkoba dan sejenisnya alasannya yaitu sanggup memabukkan, ibarat layaknya mengkonsumsi khamar yang sangat terang tidak boleh oleh Allah SWT dan dijelaskan dalam surat Al-Maidah ayat 90 di atas.

QIYAS

ilustrasi qiyas via slideplayer.info

Qiyas merupakan salah satu cara dalam melaksanakan ijtihad dengan memutuskan aturan suatu kasus yang tidak ada ketetapannya dalam Al Alquran dan Hadits dengan melaksanakan perbandingan terhadap sesuatu kasus yang dianggap sama dan telah ditetapkan hukumnya dalam Al Alquran ataupun hadits.

Contoh Ijtihad dengan cara Qiyas, semisal larangan memukul dan memarahi orang tua.

Allah SWT di dalam Al Alquran surat Al Isra ayat 23 telah berfirman, yang artinya :

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kau jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kau berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya hingga berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kau menyampaikan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kau membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra’ : 23)


ilustrasi menyakiti hati ibu via jurnaljokosuseno.blogspot.com

Sementara itu perbuatan memukul dan memarahi orang bau tanah tidak disebutkan dalam ayat di atas. Oleh alasannya yaitu itu para ulama meng-qiyaskan dari ayat di atas bahwa aturan memukul dan memarahi orang bau tanah sama dengan aturan berkata “Ah”, alasannya yaitu sama-sama akan menyakiti orang bau tanah dan berdosa.

Baca Juga : Bikin Merinding, Berikut Hadist dan Ayat Alquran Tentang Menyakiti Hati Orang Lain

Demikianlah uraian dan klarifikasi wacana sumber aturan Islam yang sangat penting untuk kita ketahui sebagai seorang muslim. Semoga sanggup menawarkan manfaat dan menambah pengetahuan dan ilmu agama kita semua.

Posting Komentar

0 Komentar

close