Bagaimana Aturan Memberi Uang Ke Fakir Miskin Ternyata Mereka Pura-Pura?


memberi uang ke fakir miskin via sahabatyamima.id

Bolehkah kita memberi uang ke fakir miskin ternyata mereka pura-pura? Bagaimana sedekah kita tadi?

Fenomena pengemis kaya banyak ditemui di aneka macam negara termasuk Indonesia. Dengan atribut kemiskinan yang digunakan, mereka berakting menjadi sosok yang meminta belas kasihan dari orang lain.

Padahal dibalik itu, para pengemis yang  akal-akalan miskin ini mempunyai harta yang berlimpah bahkan melebihi orang-orang yang sehari-hari memberi mereka. Tidak jarang hal ini menciptakan orang enggan bersedekah lagi kepada pengemis.

Seringkali kita mengalaminya. Apakah boleh memberi uang ke fakir miskin yang pura-pura? Berikut penjelasannya yang kami sanggup dari suatu sumber.

Baca Juga : 6 Keutamaan Sedekah Selain Sebagai Penghapus Dosa

Hukumi Seseorang Sesuai Lahiriyah

ilustrasi kata kata seekah via id.pinterest.com

Ingatlah kita hanya punya kiprah menghukumi seseorang sesuai lahiriyah yang kita lihat, alasannya yaitu tak bisa menerawang isi hatinya. Pelajaran ini bisa kita ambil dari kisah Usamah bin Zaid berikut ini.

Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu berkata, 

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus kami ke kawasan Huraqah dari suku Juhainah, kemudian kami serang mereka secara tiba-tiba pada pagi hari di tempat air mereka. Saya dan seseorang dari kaum Anshar bertemu dengan seorang lelakui dari golongan mereka. Setelah kami erat dengannya, ia kemudian mengucapkan laa ilaha illallah. Orang dari sahabat Anshar menahan diri dari membunuhnya, sedangkan saya menusuknya dengan tombakku hingga membuatnya terbunuh.

Sesampainya di Madinah, insiden itu didengar oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian dia bertanya padaku,

« يَا أُسَامَةُ أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ » قُلْتُ كَانَ مُتَعَوِّذًا . فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّى لَمْ أَكُنْ أَسْلَمْتُ قَبْلَ ذَلِكَ الْيَوْمِ

“Hai Usamah, apakah kau membunuhnya sesudah ia mengucapkan laa ilaha illallah?” Saya berkata, “Wahai Rasulullah, sebetulnya orang itu hanya ingin mencari proteksi diri saja, sedangkan hatinya tidak meyakini hal itu.” Beliau bersabda lagi, “Apakah engkau membunuhnya sesudah ia mengucapkan laa ilaha illallah?” Ucapan itu terus menerus diulang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga saya mengharapkan bahwa saya belum masuk Islam sebelum hari itu.” (HR. Bukhari no. 4269 dan Muslim no. 96)

Dalam riwayat Muslim disebutkan, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَقَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَقَتَلْتَهُ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّمَا قَالَهَا خَوْفًا مِنَ السِّلاَحِ. قَالَ أَفَلاَ شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ حَتَّى تَعْلَمَ أَقَالَهَا أَمْ لاَ فَمَازَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَىَّ حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّى أَسْلَمْتُ يَوْمَئِذٍ

“Bukankah ia telah mengucapkan laa ilaha illallah, mengapa engkau membunuhnya?” Saya menjawab, “Wahai Rasulullah, ia mengucapkan itu semata-mata alasannya yaitu takut dari senjata.” Beliau bersabda, “Mengapa engkau tidak belah saja hatinya hingga engkau sanggup mengetahui, apakah ia mengucapkannya alasannya yaitu takut saja atau tidak?” Beliau mengulang-ngulang ucapan tersebut hingga saya berharap seandainya saya masuk Islam hari itu saja.”

Ketika menyebutkan hadits di atas, Imam Nawawi menjelaskan bahwa maksud dari kalimat “Mengapa engkau tidak belah saja hatinya hingga engkau sanggup mengetahui, apakah ia mengucapkannya alasannya yaitu takut saja atau tidak?” yaitu kita hanya dibebani dengan menyikapi seseorang dari lahiriyahnya dan sesuatu yang keluar dari lisannya. Sedangkan hati, itu bukan urusan kita. Kita tidak punya kemampuan menilai isi hati. Cukup nilailah seseorang dari lisannya saja (lahiriyah saja). Jangan tuntut lainnya. Lihat Syarh Shahih Muslim, 2: 90-91.

Setiap Orang Akan Diganjar Sesuai yang Ia Niatkan

ilustrasi memberi uang ke fakir miskin via blog.perlengkapanrumahtangga.my.id

Coba ambil pelajaran dari hadits berikut.

Dari Abu Yazid Ma’an bin Yazid bin Al-Akhnas radhiyallahu ‘anhum, ia, ayah dan kakeknya termasuk sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana Ma’an berkata bahwa ayahnya yaitu Yazid pernah mengeluarkan beberapa dinar untuk niatan sedekah. Ayahnya meletakkan uang tersebut di sisi seseorang yang ada di masjid (maksudnya: ayahnya mewakilkan sedekah tadi para orang yang ada di masjid). Lantas Ma’an pun mengambil uang tadi, kemudian ia menemui ayahnya dengan membawa uang dinar tersebut. Kemudian ayah Ma’an (Yazid) berkata, “Sedekah itu sebetulnya bukan kutujukan padamu.” Ma’an pun mengadukan problem tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Lalu dia shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَكَ مَا نَوَيْتَ يَا يَزِيدُ ، وَلَكَ مَا أَخَذْتَ يَا مَعْنُ

“Engkau dapati apa yang engkau niatkan wahai Yazid. Sedangkan, wahai Ma’an, engkau boleh mengambil apa yang engkau dapati.” (HR. Bukhari no. 1422)

Dari hadits ini, Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata,

“Orang yang beramal akan dicatat pahala sesuai yang ia niatkan baik yang ia beri sedekah secara lahiriyah pantas menerimanya ataukah tidak.” (Fath Al-Bari, 3: 292)

Hal di atas sesuai pula dengan hadits Umar, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِنَّمَا لاِمْرِئٍ مَا نَوَى

“Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)

Misal, ada pengemis yang mengetok pintu rumah kita, apakah kita memberinya sedekah ataukah tidak? Padahal nampak secara lahiriyah, dia miskin.

Jawabannya, tetap diberi. Kalau pun kita keliru alasannya yaitu di balik itu, bisa jadi ia yaitu orang yang kaya raya, tetap Allah catat niat kita untuk bersedekah. Sedangkan ia mendapatkan dosa karena memanfaatkan harta yang sebetulnya tak pantas ia terima.

Begitu pula bila ada yang mengatakan anjuran pembangunan masjid. Secara lahiriyah atau zhahir yang nampak, kita tahu yang sodorkan anjuran memang benar-benar butuh. Lalu kita berikan bantuan.

Bagaimana bila dana yang diserahkan disalahgunakan? Apakah kita tetap sanggup pahala? 

Jawabannya, kita mendapatkan pahala sesuai niatan baik kita. Sedangkan yang menyalahgunakan, dialah yang mendapatkan dosa.

Jangan Manjakan Pengemis dan Pengamen Jalanan

ilustrasi pengamen jalanan via casciscus.com

Kami hanya nasehatkan jangan manjakan pengemis apalagi pengemis yang malas bekerja seperti yang berada di pinggiran jalan. Apalagi dengan mengamen, melantunkan nyanyian musik yang haram untuk didengar.

Kebanyakan mereka malah tidak terang agamanya, shalat juga tidak. Begitu pula sedikit yang mau perhatian pada puasa Ramadhan yang wajib. Carilah orang yang shalih yang lebih berhak untuk diberi, yaitu orang yang miskin yang sudah berusaha bekerja namun tidak mendapatkan penghasilan yang mencukupi kebutuhan keluarganya.

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الْمِسْكِينُ الَّذِى تَرُدُّهُ الأُكْلَةُ وَالأُكْلَتَانِ ، وَلَكِنِ الْمِسْكِينُ الَّذِى لَيْسَ لَهُ غِنًى وَيَسْتَحْيِى أَوْ لاَ يَسْأَلُ النَّاسَ إِلْحَافًا

“Namanya miskin bukanlah orang yang tidak menolak satu atau dua suap makanan. Akan tetapi miskin yaitu orang yang tidak punya kecukupan, lantas ia pun aib atau tidak meminta dengan cara mendesak.” (HR. Bukhari no. 1476)

Intinya, sedekah atau memberi uang ke fakir miskin harus dilakukan dengan ikhlas. Meskipun kita salah memberikannya kepada orang yang pura-pura miskin, semua menjadi kehendak Allah SWT. Kita serahkan semua kepada Allah, Dia yang akan menentukannya.

Baca Juga : Perbedaan Zakat, Infaq, dan Sedekah Dalam Islam

Demikian klarifikasi wacana memberi uang ke fakir miskin. Semoga klarifikasi di atas bermanfaat dan menyebabkan kita selektif dalam memberi sedekah kepada orang yang benar-benar membutuhkan.

Posting Komentar

0 Komentar

close