Wudhu Sebelum Tidur Bagi Perempuan Haid Bagaimana Hukumnya?


Gambar ilustrasi dilansir dari Mukomukoshare.com
Seperti kita ketahui...

Tidak hanya ketika akan sholat, setiap muslim dianjurkan berwudhu sebelum tidur supaya mempunyai thaharah dan juga keberkahan.

Namun bagaiman statusnya dengan perempuan yang sedang haid? Apakah juga dianjurkan untuk berwudhu?

Berikut klarifikasi An-Nawawi dalam dalam Syarh Shahih Muslim!

Dari hadits Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلاَةِ ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الأَيْمَنِ

Jika kau mendatangi daerah tidurmu maka wudhulah menyerupai wudhu untuk shalat, kemudian berbaringlah pada sisi kanan badanmu.” (HR. Bukhari, no. 247; Muslim, no. 2710)

Lantas bagaimana dengan perempuan haidh yang darahnya masih mengalir, apakah sebelum tidur dianjurkan pula untuk berwudhu?

Mengenai wudhu bagi perempuan yang sedang haid, Ulama mempunyai berbedaan pendapat. Apakah perempuan haid dianjurkan berwuhud ataukah tidak.

Mengenai hal tersebut, An-Nawawi menyebutkan dua pendapat ini dalam Syarh Shahih Muslim.

Pertama, dia nukil keterangan al-Maziri

Al-Maziri mengatakan, “Terdapat perbedaan pendapat perihal wudhunya perempuan haid sebelum tidur. Bagi ulama yang memahami bahwa alasannya supaya sanggup tidur dalam kondisi punya thaharah, maka dia menganjurkan hal itu.”

Selanjutnya an-Nawawi menyebutkan pendapat ulama madzhab Syafiiyah

Para ulama mazhab kami (Syafi’iyah) setuju bahwa tidak dianjurkan bagi perempuan haid atau nifas untuk berwudhu (sebelum tidur) alasannya wudhunya tidak berdampak pada statusnya. ketika darah haidnya sudah berhenti (sedangkan dia belum mandi suci), hukumnya menyerupai orang junub. (Syarh Shahih Muslim, 3/218)

Apakah perempuan haidh keadaannya sama dengan orang junub?

Yang terang kalau orang dalam keadaan junub dan belum eksklusif mandi, maka ia dianjurkan untuk berwudhu terlebih dahulu.

Misalnya, setelah hubungan intim di malam hari, lantas belum sempat mandi, maka disunnahkan berwudhu sebelum tidur, menyerupai dilansir dari rumaysho.com.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ وَهْوَ جُنُبٌ ، غَسَلَ فَرْجَهُ ، وَتَوَضَّأَ لِلصَّلاَةِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa kalau dalam keadaan junub dan hendak tidur, dia mencuci kemaluannya kemudian berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat.” (HR. Bukhari, no. 288).

‘Aisyah pernah ditanya oleh ‘Abdullah bin Abu Qais mengenai keadaan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam,

كَيْفَ كَانَ يَصْنَعُ فِى الْجَنَابَةِ أَكَانَ يَغْتَسِلُ قَبْلَ أَنْ يَنَامَ أَمْ يَنَامُ قَبْلَ أَنْ يَغْتَسِلَ قَالَتْ كُلُّ ذَلِكَ قَدْ كَانَ يَفْعَلُ رُبَّمَا اغْتَسَلَ فَنَامَ وَرُبَّمَا تَوَضَّأَ فَنَامَ. قُلْتُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى جَعَلَ فِى الأَمْرِ سَعَةً.

“Bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kalau dalam keadaan junub? Apakah dia mandi sebelum tidur ataukah tidur sebelum mandi?” ‘Aisyah menjawab, “Semua itu pernah dilakukan oleh beliau. Kadang dia mandi, kemudian tidur. Kadang pula dia wudhu, barulah tidur.” ‘Abdullah bin Abu Qais berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah mengakibatkan segala urusan begitu lapang.” (HR. Muslim, no. 307).

Kalau orang junub berwudhu, itu untuk memperingan junubnya. Sedangkan untuk perempuan haidh berwudhu, maka itu tidak manfaat apa-apa.

Bahkan ketika ia mandi besar (mandi wajib) pun ketika darah haidhnya mengalir, tidak dikatakan hadatsnya hilang. Sehingga dari sini tidaklah sama.

Baca Juga:

Al-Hafizh Ibnu Hajar menukil perkataan Ibnu Daqiq Al-‘Ied, Imam Syafi’i menyatakan bahwa proposal (berwudhu sebelum tidur) tidaklah berlaku pada perempuan haidh. Karena meskipun ia mandi, hadatsnya tidak akan hilang (jika masih terus keluar darah).

Hal ini berbeda dengan orang junub. Namun kalau darah haidh berhenti, namun belum eksklusif mandi wajib, maka statusnya sama menyerupai orang junub. (Fath Al-Bari, 1: 395)

Kesimpulan:

Jika darah haid masih mengalir maka tidak dianjurkan untuk perempuan melaksanakan wudhu, alasannya hal tersebut sia-sia.

Namun kalau haid sudah berhenti namun belum mandi wajib, maka hukumnya menyerupai halnya wudhu orang yang sedang junub.

Demikian, semoga bermanfaat! Wallahu A'lam.

Posting Komentar

0 Komentar

close