Melamun Dan Menghayal Dikala Sholat, Apakah Sah Sholatnya?


Gambar ilustrasi dari inspirasidata.com

Ada yang bilang kalau ingin memperbaiki hidup maka perbaikilah shalat. Atau bahkan ada pula yang menyampaikan ketika lupa menaruh barang shalatlah dulu, nanti juga ingat.

Memang benar, untuk memperbaiki hidup sebaiknya memperbaiki shalat. Namun, bila hingga pada mengingat barang yang lupa ketika shalat, bagaimana hukumnya?

Shalat diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Takbiratul ihram dianggap sebagai pintu masuk untuk mengingat Allah SWT.  Segala bentuk acara yang diperbolehkan di luar shalat, seketika takbir semuanya mesti ditinggalkan, alias diharamkan.

Setelah berniat dan melaksanakan takbir, seharusnya pikiran dan hati kita fokus untuk beribadah dan tertuju pada Allah SWT. Namun masalahnya, mengendalikan pikiran bukanlah kasus mudah.

Seringkali pikiran lain muncul tiba-tiba di benak kita menyerupai soal pekerjaan, anak, harta, dan dagangan. Bahkan dalam shalat pun, terkadang khayalan asing tiba menghantui pikiran. Sehingga, semua itu menciptakan kekhusyukan ibadah menjadi terganggu dan berkurang.

Baca Juga :

Lalu bagaimana hukumnya? Apakah masih sah shalat orang yang mengkhayal ketika shalat?

Dilansir inspirasidata.com, terkait persoalan ini, Imam An-Nawawi punya tanggapan di dalam kitabnya Fatawa Al-Imam An-Nawawi:


إذا فكر في صلاته في المعاصي والمظالم ولم يحضر قلبه فيها ولا تدبر قراءتها هل تبطل صلاته أم لا؟ أجاب رضي الله عنه: تصح صلاته وتكره..

Artinya, “Bila seorang mengkhayal maksiat dan kezalimaan pada ketika shalat sehingga hatinya tidak fokus dan ia tidak meresapi bacaannya, apakah shalatnya masih sah? ‘Shalatnya sah, namun makruh,’” jawab Imam An-Nawawi.”

Orang yang mengkayal, pikirannya melayang ke mana-mana, bahkan memikirkan sesuatu yang buruk, shalatnya masih dihukumi sah. Meskipun sah, shalatnya dianggap makruh karena hatinya tidak hadir dan ia tidak meresapi bacaan yang dilafalkannya.

Kekhusyukan memang tidak menjadi kewajiban di dalam shalat, namun bukan berarti kita mengabaikannya. Kita mesti  mengupayakan dan mengusahakannya. Minimal kita berusaha merenungi dan meresapi setiap bacaan yang dilafalkan ketika shalat. Di sini kita mengerti betapa kekhusyukan ialah barang mahal tiada tara.

Wallahu a’lam.

Posting Komentar

0 Komentar

close